Monolog #2 (Merdeka)

 Apa itu merdeka?

Ketika kau bebas melakukan apa yang kau inginkan dan tidak ada yang melarang atau ketika kau selamat dari penindasan orang lain yang telah mendominasi selama beberapa waktu?

Apa itu merdeka?

Apakah kita telah merdeka?

Benarkah demikian?

Apa saat ini kau merasa merdeka?

Jika kau tanya aku, maka aku akan menjawab belum.

Aku masih merasa terjajah, terjajah oleh budaya asing yang mengadiksi diriku sampai aku lupa untuk mendukung negeriku yang lucu ini.

Aku masih merasa terkekang, terkekang oleh mereka yang berkuasa dan memiliki kekuatan untuk memperbudak dan memanfaatkan orang lain dengan kegiatan yang terlihat baik dan damai.

Aku masih terpecah belah, oleh mereka yang suka mengadu domba di antara kita dengan keuntungan individu yang bahkan tak seberapa.

Aku masih terjerat, terjerat fantasi kehidupan yang tak mungkin dapat aku rasakan di negeriku yang lucu ini.

Tahun 2021 adalah tahun pembuatan tulisan ini, kami masih terkekang dan terjajah.

Ketika hal positif menjadi negatif dan hal negatif malah melegakan sanubari.

Masker yang berlapis melindungi organ pernapasan manusia dari penjajah dan pengekang yang bernama COVID-19.

Kita dapat bebas dari penjajah ini dengan vaksin dan selalu mengikuti protokol, namun banyak oknum yang bodoh.

Oknum itu tak akan pernah benar-benar merdeka, mereka akan selalu berada di dalam delusi merdeka mereka.

Mereka berlarian tanpa protokol, mereka tak ingin di vaksin, dan mereka yang tak mengikuti hal-hal yang bertujuan untuk kebaikan diri mereka sendiri.

Mereka adalah orang terbodoh!!!

Aku teringat pada pahlawan yang berusaha untuk memerdekakan bangsa ini.

Apakah mereka juga sesulit kita untuk memerdekakan negeri ini dari COVID-19?

Apakah mereka pun merasa kesal pada mereka yang tak ingin membantu mereka dalam mewujudkan mimpi negeri ini?

Bagaimana cara mereka berpegang teguh dalam menjaga niat mereka untuk memerdekakan masyarakat bodoh di negeri ini?

Kurasa aku semakin menghargai dan menghormati para pahlawan kemerdekaan, mereka rela bersusah payah memerdekakan oknum bodoh yang bahkan mendukung penjajah mereka sendiri.

(Monolog Aku, Merdeka)