Monolog #3 (Pahlawan)

Siapakah yang pantas disebut pahlawan?

Mereka yang rela hancur untuk kepentingan bersama atau mereka yang menghancurkan penjahat yang bergerombol bersama?

Apakah mereka yang berjuang untuk kehidupan dirinya dan keluarganya dapat disebut pahlawan juga?

Lalu, jika sang pahlawan melakukan kejahatan untuk kebaikan bagi kehidupan keluarganya, apakah ia masih dapat kita anggap pahlawan?

Jika tidak, lalu apa yang membuat seseorang dianggap pahlawan?

Mereka yang meninggikan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau seseorang yang baik untuk semua orang di penjuru negeri?

Jika ia baik untuk semua orang di penjuru negeri, mengapa ia mengalahkan penjahat?

Lalu, siapa yang pantas kita sebut penjahat?

Mereka yang mengambil besi berkarat atau mereka yang mengambil uang rakyat?

Mereka yang egois atau mereka yang memfitnah orang lain egois?

Apakah seorang pahlawan harus memaafkan penjahat?

Jika tidak, mengapa? apakah penjahat bukan termasuk rakyat penjuru negeri?

Apakah penjahat adalah makhluk yang berbeda dari rakyat ?

Jika kau tanya aku, maka akan kujawab mereka pantas dimaafkan untuk kebaikan semua orang.

Kejahatan yang mereka lakukan harus dipertanggungjawabkan dengan setimpal dan seadil mungkin.

Lalu, apakah sistem dunia masa kini sudah dapat dianggap adil?

apa itu keadilan?

Apakah ketika orang yang memiliki kedua kaki dan yang tidak memiliki kaki masing-masing diberikan bola atau sepasang sepatu?

Atau ketika seorang kiper dan seseorang yang tidak memiliki tangan masing-masing diberi sarung tangan atau cincin?

Jika kesamarataan yang kau maksud dengan adil, maka kau bisa mulai pergi dari rumah dan menggelandang di jalanan sekarang karena banyak orang diluar sana yang mereka bahkan tidak tau besok akan tidur dimana.

Jika kau masih menganggap keadilan adalah samarata, maka kau bisa makan makanan basi dari tempat sampah di dekat rumahmu, karena masih banyak orang yang melakukan hal tersebut.

Lalu, apa itu keadilan sejati?

Jika kau tanya aku, maka aku akan menjawab,

Aku pun tidak tahu karena hanya Tuhan yang maha adil  yang mengeahui arti keadilan sebenarnya.

(Monolog Aku, Pahlawan)